Cak Imin Harus Keluar Kandang Jika Ingin Jadi Cawapres

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar digadang-gadang untuk maju dalam perhelatan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 mendatang.

Kemungkinan majunya Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin besar kemungkinan diusulkan sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi basis kekuatan pendukungnya. Namun demikian, untuk maju dalam perhelatan Pemilu 2019, langkah itu saja dinilai tidak cukup.

Pengajar ilmu komunikasi politik Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Anang Anas Azhar menilai, sejauh ini Cak Imin masih tekenal di lingkungan nahdliyin. Untuk menjadi Cawapres, tidak cukup hanya bermain di kandang sendiri.

“Sudah saatnya Cak Imin mengubah pola dengan memasuki grass root di luar NU. Cak Imin harus mencitrakan dirinya tidak hanya milik NU tapi milik bangsa, harus go public,” kata mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah Sumut itu dalam keterangan persnya, Selasa (3/10).

Pengamat politik UINSU, Faisal Reza, menjelaskan, dalam pertarungan Pilpres 2019 Cak Imin tidak bisa menjadi orang nomor satu atau capres. Dari posisi tawar, jika dilihat dari pertarungan Islam konservatif dan Islam Nusantara, Cak Imin paling kuat hanya di posisi Cawapres mendampingi Jokowi.

“Saat ini kita dihadapkan tipologi populis. Program nomor sekian. Seperti halnya Jokowi bisa selfie-selfie dengan rakyat, sudah cukup. Untuk tahapan ini, Cak Imin bisa mengisi kekosongan,” kata dosen ilmu politik UINSU itu.

Faisal mengatakan, Jokowi akan lebih baik bila berpasangan dengan Cak Imin pada Pilpres 2019. Pasalnya, identifikasi politik rival Jokowi kemungkinan besar adalah berlatar belakang militer.

116total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *