BPS: Biaya Pendidikan Berkontribusi Miskinkan Rakyat NTB

0

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat (NTB) Endang Tri Wahyuningsih  mengatakan berbagai komponen biaya pendidikan yang harus dikeluarkan ikut berkontribusi memiskinkan rakyat di provinsi itu. Pengeluaran biaya pendidikan itu, antara lain sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) setiap bulan, membeli buku tulis, buku pelajaran, dan alat tulis.

Komponen biaya pendidikan lainnya yang harus dikeluarkan adalah sewa pondokan atau indekos. Pengeluaran tersebut dikeluarkan masyarakat di perdesaan.

Hal tersebut dikemukakannya di Mataram, Senin (17/7). ¬†“Anak-anak yang masuk pondok pesantren bayar pondokan juga. Itu termasuk dalam komponen biaya pendidikan,” ujarnya.

Endang menyebutkan biaya pendidikan merupakan salah satu dari komoditas nonmakananan yang berkontribusi terhadap kemiskinan, selain perumahan, bensin, dan listrik.

Persentase kontribusi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan penduduk NTB yang tinggal di perkotaan pada Maret 2017, sebesar 2,79 persen. Angka tersebut lebih besar dibandingkan di perdesaan sebesar 1,60 persen.

Selain mengeluarkan biaya pendidikan, lanjut dia, penduduk NTB juga harus dihadapkan pada biaya membeli produk makanan sehari-hari. Produk makanan yang berkontribusi terhadap kemiskinan di NTB, adalah beras, disusul rokok kretek filter, cabai rawit, telur ayam ras, bawang merah dan mi instan.

Secara absolut, kata Endang, jumlah penduduk miskin di NTB pada Maret 2017 sebanyak 793.780 orang. Jumlah tersebut berkurang 10.670 orang atau 0,41 persen dibanding Maret 2016 sebanyak 804.400 orang.

“Persentase penurunan angka kemiskinan belum mencapai target Pemprov NTB sebesar 2 persen per tahun,” katanya.

Sementara itu, Inak Jember, salah seorang warga Kota Mataram, mengaku harus mengeluarkan biaya jutaan rupiah agar cucu perempuannya bisa masuk SMP di yayasan yang tidak jauh dari rumahnya. Biaya pendaftaran yang harus dikeluarkan mencapai Rp 4 juta, namun karena pengurus yayasan mengetahui cucunya sudah tidak memiliki bapak, akhirnya mendapatkan keringanan.

“Biaya pemondokan dan makan sehari-hari juga harus saya keluarkan Rp 100.000 per bulan. Itu pun sudah diberi keringanan. Yang penting cucu saya bisa tinggal di pesantren untuk menimba ilmu,” ucapnya.

100total visits,1visits today

Share.

About Author

Leave A Reply