Begini Sulitnya Merebut “Jantung Kekhalifahan” ISIS di Raqqa

Aliansi pejuang Kurdi-Arab  sudah menguasai pinggiran Raqqa, ibu kota “kekhalifahan” kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah ( ISIS) di Suriah dalam beberapa pekan terakhir.

Aliansi tersebut didukung oleh Amerika Serikat (AS), Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Aksi merebut pinggiran Raqqa dilakukan dalam waktu relatif cepat.

Namun, wartawan BBC yang melaporkan dari medan petang menyebutkan, upaya menguasai Kota Tua di Raqqa, yang oleh ISISdisebut sebagai “jantung kekuasaan ISIS” berjalan sangat lambat.

Wartawan BBC bersama satu unit pejuang SDF berada hanya beberapa ratus meter dari kawasan Kota Tua.

Gerak SDF berjalan lambat karena mereka menghadapi pesawat terbang tak berawak atau  drone, terowongan, bom bunuh diri, dan penembak jitu.

“Pertempuran untuk merebut (jantung kota) Raqqa akan berlangsung lama dan sengit,” kata wartawan BBC.

Pesawat nirawak ISIS bukan senjata yang gampang dilumpuhkan.

Bentuknya yang kecil dengan gerakan lincah ini dioperasikan untuk menjatuhkan granat ke tentara atau pejuang SDF yang bergerak menuju pusat kota.

Sering datang tiba-tiba, drone bersenjata milik ISIS dalam satu hari bisa melakukan serangan hingga 16 kali, kata seorang pejuang SDF yang bersama beberapa rekannya berlindung di satu rumah tak jauh dari Kota Tua.

Penembak jitu

Kepada situs berita France24, pejuang ini mengatakan bahwa droneISIS menyulitkan tim penembak jitu SDF menempati posisi di atap-atap gedung.

“Selain menyasar penembak jitu, drone ISIS juga menghancurkan gudang senjata, logistik, dan kendaraan kami,” katanya.

Gerak maju tentara SDF dilakukan dari rumah ke rumah agar tak terdeteksi oleh pejuang dan drone ISIS.

Dalam rekaman video yang diperoleh France24 terlihat bagaimana satu unit SDF harus berlindung begitu drone ISIS terlihat di angkasa.

Komandan SDF langsung memerintahkan anak buahnya berlindung begitu drone ISIS mendekat. “Ayo, segera berlindung. Cepat!” teriaknya.

Insiden seperti ini bisa terjadi dua atau tiga kali dalam sehari, sering kali lebih dari itu.

Yang juga sering datang tiba-tiba adalah peluru dari para penembak jituISIS, seperti yang dialami wartawan BBC dan satu unit pejuang SDF saat berada di satu gedung.

Dari arah depan terdengar tembakan beruntun dan seseorang berteriak, “Awas penembak jitu!”

Terowongan rahasia

Salah seorang pejuang perempuan SDF dengan sigap merebah dan dengan senjata laras panjang ia memuntahkan peluru ke arah posisi penembak jitu ISIS.

Perempuan ini bernama Delilah, mahasiswi jurusan keperawatan namun sekarang bergabung sebagai penembak jitu SDF.

“Ketika peluru mengenai sasaran dan menewaskan musuh, saya merasa sangat bahagia,” kata Delilah dengan senyum lebar kepada BBC.

“Ini menambah semangat dan menambah kekuatan kami.” “Kami melindungi kawan dan warga kami,” katanya.

Ketika BBC dan unit SDF bergerak perlahan ke pusat kota, mereka bertemu dengan unit SDF lain yang baru saja selesai bertugas pada malam sebelumnya.

Mereka bertempur semalaman melawan ISIS yang melancarkan serangan dari jaringan terowongan rahasia.

“Mereka mengepung kami. Mereka menembak dari segala arah,” kata seorang pejuang Arab bernama Mashuk.

“Mereka menangkap salah seorang anggota kami, namun kami berhasil mendapatkannya kembali,” kata Mashuk.

499total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *