Baru Kenal saat Membesuk Novanto Alasan Agung Laksono Ogah Jadi Saksi Menguntungkan bagi Fredrich

Politisi senior Partai Golkar, Agung Laksono, menolak menjadi saksi meringankan untuk Fredrich Yunadi, tersangka dugaan menghalangi dan merintangi penyidikan perkara e-KTP dalam kasus Setya Novanto.

Agung sebelumnya dipanggil untuk diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi meringankan atas pengajuan dari Fredrich.

Kepada awak media setelah bertemu penyidik KPK, Agung menyampaikan penolakannya.

“Saya datang karena saya menghargai lembaga KPK ini lembaga penegak hukum yang saya hormati. Namun, di dalam saya menyatakan, saya tidak bersedia menjadi saksi yang menguntungkan bagi Saudara Fredrich Yunadi,” kata Agung.

Agung Laksono kemudian mengungkap sejumlah alasan dia menolak permintaan Fredrich.

Pertama, lantaran dirinya mengaku baru mengenal Fredrich pada malam dia membesuk Novanto saat dirawat di RS Medika Permata Hijau, Kamis (16/11/2017.

Sebelumnya, dia hanya mengetahui sosok Fredrich lewat media massa.

Kedua, Agung Laksono tidak ingin terlibat dalam perkara yang melibatkan Fredrich.

“Namun, saya datang ke sini karena saya menghormati KPK dan saya jelaskan sikap saya seperti itu,” ujar Agung.

Dia mengaku bahwa undangan panggilan pemeriksaan dari KPK ini datang dua hari lalu.

Sebelum itu dia tidak pernah dikonfirmasi Fredrich atau penyidik KPK untuk menjadi saksi meringankan. Dia juga tidak tahu apa alasan Fredrich memilihnya.

“Mungkin karena terlihat di situ saya hadir (saat besuk). Kalau usaha, saya kira, ya, boleh-boleh saja,” ujar Agung.

Agung kemudian juga menjelaskan alasan dia membesuk Novanto setelah kecelakaan.

Menurut Agung, hal itu karena dia sudah bertahun-tahun mengenal mantan Ketua DPR itu.

“Seperti halnya kemarin ketika saya besuk Pak Ade Komarudin, saya kira sebagai tindakan manusiawi yang seperti itu,” ujar Agung.

Saat dia membesuk, lanjut Agung, Novanto sedang tidur. Dia tidak berkomunikasi dengan Novanto dan hanya melihat perban dengan memar di bagian dahi.

Saat menghadap penyidik KPK hari ini, dia mengatakan, penyidik tidak sampai mengklarifikasi soal kondisi Novanto pada saat dia membesuk waktu itu.

“Oh tidak karena kan saya tak mau berikan keterangan, tetapi saya berikan sedikit gambaran. Saya datang dan memang saya akui saya datang ke sana,” ujar Agung.

“Namun, saya tidak bersedia dalam status sebagai saksi yang menguntungkan Pak Fredrich. Artinya, saya tak mengenal, tak mengetahui, dan tak ingin terlibat dalam perkara ini,” katanya.

Koordinasi dengan Polri
Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febri Diansyah membenarkan KPK masih berkoordinasi dengan Polri untuk memeriksa AKP Reza Pahlevi, ajudan terdakwa korupsi e-KTP, Setya Novanto.

Sebelumnya, KPK telah dua kali memanggil Reza untuk diperiksa dalam kasus dugaan merintangi penyidikan namun tidak hadir.

Hingga kini Reza belum bisa diperiksa penyidik KPK lantaran Polri meminta pemeriksaan dilakukan di instusinya.

“Nanti kita koordinasikan soal itu. Itu masih proses koordinasi lebih lanjut,” ucap Febri.

Febri mengamini pemeriksaan Reza belum bisa dilakukan karena ada nota kesepahaman atau MoU antara KPK, Polri dan Kejagung.

Salah satu poin dalam MoU itu adalah setiap lembaga penegak hukum yang ingin memeriksa salah satu anggota dari institusi lain wajib mendapat restu pimpinannya.

“Jadi dari aspek penindakan dan pencegahan, teknis-teknisnya diuraikan di sana. Memang ada koordinasi yang perlu dilakukan lebih lanjut,” terang Febri.

Febri menuturkan pihak Polri sudah menyatakan tidak akan menghalang-halangi proses hukum yang berjalan di KPK, termasuk memeriksa Reza.

“Kami tentu juga harus saling menghargai antara KPK dan Polri terkait hal itu. Ini soal koordinasi saja, bagaimana teknisnya yang terpenting adalah kita bisa mengambil keterangan terhadap saksi pro justicia ini,” tambah Febri.

134total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *