Bangunan TPI Miliaran Rupiah di Bengkulu Tengah Mubazir

Bangunan tempat pelelangan ikan (TPI) di Kecamatan Pondok Kelapa, Bengkulu Tengah, Bengkulu, yang dibangun dua tahun lalu hingga kini tidak dimanfaatkan oleh nelayan setempat alias mubazir.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Bengkulu Tengah, Syamsul Bahri, di Bengkulu, Rabu (15/11) mengatakan, tidak berfungsinya TPI di Pondok Kelapa, karena ketika dibangun pada tahun 2015, tidak berkoordinasi dengan nelayan setempat.

“Semestinya sebelum TPI dibangun pemda berkoordinasi dengan nelayan setempat, sehingga ketika TPI selesai dibangun langsung dimanfaatkan nelayan untuk membongkar ikan hasil tangkapan setiap hari,” ujarnya.

Sebab, nelayan sangat tahu di mana harus dibangun TPI agar berfungsi dengan baik sebagai bongkar muat ikan hasil tangkapan nelayan setempat.

Namun, karena tidak ada koordinasi dengan baik dengan nelayan setempat, maka TPI di Pondok Kelapa asal bangun saja. Akibatnya, bangunan TPI bernilai miliaran rupiah sudah dua tahun selesai dibangun sampai sekarang tidak berfungsi.

Hal ini terjadi karena nelayan tidak bersedia membongkar ikan di TPI tersebut, karena lokasinya tidak strategis dan kapal sulit merapat. Akibatnya, nelayan Pondok Kelapa lebih banyak mendarat di TPI Desa Lemau.

“Dermaga TPI Sungai Lemau fasilitasnya lengkap sehingga kapal nelayan tidak sulit merapat. Karena itu, ratusan kapal nelayan setiap hari bongkar ikan di TPI Lemau,” ujarnya.

Sementara TPI Pondok Kelapa tidak memiliki dermaga, sehingga menyulitkan kapal nelayan untuk merapat. Karena itu, seluruh nelayan yang tergabung dalam HNSI Pondok Kelapa bongkar ikan di TPI Lemau.

Saat ini, anggota HNSI Bengkulu Tengah tercatat sebanyak 1.200 orang, termasuk nelayan asal Pondok Kelapa. Mereka setiap hari berangkat ke laut mencari ikan dan pulangnya bongkar di TPI Lemau.

“Kami berharap TPI Pondok Kelapa diperbaiki dan dilengkapi dermaga, sehingga bisa disinggahi nelayan untuk bongkar hasil tangkapannya. Tapi, kalau bangunan dibiarkan seperti ini maka TPI tersebut, selama-lamanya akan mubazir,” kata Arlan (34), nelayan setempat.

Selain itu, nelayan juga berharap akses jalan dan fisilitas pendukung di TPI Pondok Kelapa diperbaiki lagi dari yang ada sekarang, sehingga kendaraan yang akan masuk ke TPI berjalan lancar.

“Sangat disayangkan bangunan TPI bernilai miliaran rupiah tidak difungsikan sebagaimana tujuan awal. Ke depan kasus seperti jangan sampai terulang lagi, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) jangan asal buat proyek, tapi proyek yang dibuat harus dipikirkan azas manfaatnya,” ujarnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bengkulu Tengah, tidak berhasil dikonfirmasi terkait TPI Pondok Kelapa sudah dua tahun selesai dibangun sampai sekarang tidak dimanfaatkan alias mubazir.

37total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *