Aris Budiman Buka-bukaan soal Johannes Marliem

Direktur Penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Aris Budiman mengungkapkan lembaga antikorupsi tidak pernah memeriksa pengusaha Johannes Marliem dan menggeledah perusahaannya Biomorf Lone Mauritius terkait kasus korupsi e-KTP. Padahal, Johannes dan Biomorf memiliki peran penting dalam megakorupsi yang merugikan keuangan negara hingga Rp 2,3 triliun tersebut.

Nama Johannes Marliem disebut sebagai salah satu pihak yang turut terlibat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan proyek senilai Rp 5,8 triliun. Perusahaan Biormof yang dipimpin Marliem turut menggarap proyek e-KTP sebagai pemasok Automated Fingerprint Identification System (AFIS) merek L-1. Tak hanya itu, Johannes juga disebut sebagai pihak yang menyediakan dana untuk dibagikan kepada sejumlah anggota DPR, termasuk Novanto.

Bahkan, Johannes yang meninggal dunia di Amerika Serikat beberapa waktu lalu memberikan jam tangan Richard Mille senilai USD 135 ribu kepada Novanto.

Aris mengakui pernyataannya ini akan berimplikasi hukum. Namun, Aris memastikan KPK memang tidak pernah memeriksa Johannes Marliem.

“Johannes Marliem tidak pernah diperiksa. Anda bisa cek, ini ucapan saya bisa beresiko hukum bagi saya,” tegas Aris di gedung KPK, Jakarta, Jumat (6/4).

Tak hanya itu, Aris menyatakan, KPK juga tidak pernah menggeledah kantor Biomorf milik Johannes. Padahal, kata Aris, surat perintah penggeledahan sudah dikeluarkan pihaknya.

“Perusahaan Johannes Marliem yang namanya Biomorf tidak pernah digeledah. Padahal sudah dimintakan surat penetapan penggeledahan,” katanya.

Aris mengaku heran dengan sikap lembaga antikorupsi. Menurut Aris, seorang penyidik seharusnya memiliki sikap yang sama dalam menangani suatu perkara. Aris pun membandingkan dengan salah satu pejabat Mahkamah Agung (MA) yang ditangani KPK.

Dikatakan, hanya dalam tempo dua jam setelah gelar perkara, ruang kerja pejabat tersebut langsung digeledah.

“Karakter seseorang harusnya sama. Ada yang namanya kognitif dan afektif. Itu pelajaran psikologi kepolisian sedikit. Itu linear, harusnya kita berperilaku sama. Kantor Polri, penegak hukum, digeledah. Kenapa satu lembaga ini (Biomorf) tidak digeledah? Ada apa? Itu pertanyaan-pertanyaan bagi saya semuanya, dari jilid satu. Begitu saja, terima kasih,” katanya.

Aris mengungkapkan proses penyidikan KPK yang tak memeriksa Johannes Marliem maupun menggeledah Biomorf ini usai Pimpinan KPK melantik Brigjen Firli sebagai Deputi Penindakan. Tak hanya soal e-KTP, dengan raut wajah penuh emosi, Aris Budiman juga meluapkan emosinya kepada sejumlah pihak di internal KPK.

Salah satu hal yang diungkap Aris mengenai surat elektronik atau email internal KPK yang diterimanya pada Jumat (6/4) pagi ini. Email tersebut mengenai proses perekrutan penyidik. Aris mengaku kecewa lantaran dalam email tersebut, salah seorang penyidik yang akan kembali ke KPK justru dituduh sebagai kuda troya.

“Hari ini saya terima email penerimaan pegawai, salah satu Kasatgas saya, saya minta kembali menjadi penyidik di KPK. Dan dia adalah penyidik yang baik. Termasuk penerimaan beliau, dan di dalam KPK dikembangkan seolah-olah ini seperti ‘kuda troya’,” kata Aris.

“Kuda troya” merupakan istilah untuk menyebut musuh dalam selimut. Aris mengaku membalas email tersebut dengan menyatakan dirinya sebagai kuda troya bagi oknum di KPK.

“Dan saya balas email itu. Saya katakan bahwa saya adalah kuda troya bagi oknum-oknum yang manfaatkan kesucian KPK untuk kepentingan pribadi,” tegasnya.

56total visits,2visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *