Apa Penyebab Parpol Lebih Pilih Usung Calon Kalangan TNI/Polri daripada Kader Partai?

Sejumlah anggota TNI-Polri diusung partai politik untuk maju dalam Pilkada Serentak 2018.

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menilai calon berlatar belakang TNI/Polri bisa memiliki pengaruh yang signifikan.

Pada Pilkada Serentak 2018 terdapat lima jenderal aktif yang dipastikan maju dalam bursa calon gubernur.

“Personel TNI/Polri yang mereka usung rata-rata adalah putra daerah yang dicitrakan sebagai figur daerah yang berhasil di bidang tugasnya, dengan popularitas, dan pengaruh yang cukup signifikan dan di masyarakat. Apalagi partai sangat berorientasi untuk menang,” papar Titi.

 

Empat di antaranya, berasal dari institusi Polri, yakni Kepala Korps Brimob Polri Inspektur Jenderal Murad Ismail di Pilkada Provinsi Maluku; Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur, Inspektur Jenderal Safaruddin Calon Gubernur Kalimantan Timur.

Kemudian Wakil Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, Inspektur Jenderal Anton Charliyan di Pemilihan Gubernur Jawa Barat.

Sedangkan dari TNI yakni Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat TNI, Letnan Jenderal Edy Rahmayadi, yang akan ikut dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara.

Titi menyebut elektabilitas menjadi faktor parpol tidak menunjuk kadernyan tetapi memilih sosok yang sudah lebih banyak di kalangan masyarakat.

“Maka elektabilitas menjadi faktor dominan dalam proses pencalonan pilkada. Itu lah mengapa kader kemudian tidak dilirik untuk mencalonkan sebab parpol sangat takut kalah di pilkada,” tutur titi.

Ia menilai parpol semata-mata hanya memprioritaskan segala upaya untuk menang dibandingkan memungsikan pilkada sebagai uji tarung kekuatan mesin partai dalam kompetisi elektoral melalui pencalonan kadernya sendiri.

“Jadi parpol semata hamya memprioritaskan segala upaya untuk menang,” tukasnya.

70total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *