Anies Tidak Sopan, Belum Jadi Gubernur Sudah Atur Malam Takbiran!

0

BANGNAPI.COM , Jakarta –  Lagi-lagi Anies offside! Anies Baswedan mungkin sudah kebelet bertahta sebagai Gubernur DKI Jakarta atau mungkin sudah terlama menganggur tidak bisa membuat kebijakan apa-apa pasca dipecat sebagai Mendiknas beberapa waktu lalu. Belum juga KPU DKI Jakarta mengumumkan hasil resmi Pilkada 19 April 2017 kemarin, Anies sudah membuat pernyataan tentang kebijakannya.

“Latihan penyembelihan hewan kurban dibolehkan lagi, takbiran dibolehkan lagi, Monas boleh dipakai untuk majelis taklim, rumah dinas dipakai lagi untuk pengajian, kantor kelurahan untuk majelis taklim, GOR untuk majelis taklim. Insya Allah akan kami kembalikan semuanya (ke awal),” ujar Anies menambahkan.

Sumber : http://news.okezone.com/read/2017/04/24/338/1675139/alhamdulillah-anies-perbolehkan-warga-jakarta-takbir-keliling-lagi

https://metro.tempo.co/read/news/2017/04/24/083869046/anies-akan-memberlakukan-lagi-3-kebijakan-yang-dilarang-ahok

Pertanyaan saya :

  1. Kenapa semua kegiatannya berbau Islami? Monas untuk Majelis Taklim, rumah dinas untuk pengajian, kantor kelurahan untuk majelis taklim, GOR untuk majelis taklim. Kenapa semua hanya dikaitkan dengan kegiatan yang sifatnya Islami? Perlukah kantor kelurahan untuk majelis? Apakah di kelurahan itu tidak ada masjid yang memang untuk beribadah dan syiar? Kenapa harus menggunakan properti pemerintah? Apakah ini yang dimaksud Anies sebagai keberpihakan? Bagaimana misalnya jika itu bukan untuk majelis taklim melainkan untuk kebaktian, apakah Anies akan mengijinkan dan menjamin keamanannya? Atau ini hanya berlaku untuk kegiatan Islami? Jakarta punya masjid besar, mulai Istiqlal hingga yang terbaru Masjid KH Hasyim Asy’ari. Beberapa juga sedang dalam pembangunan. Kenapa tidak dioptimalkan itu saja? Sekali lagi, buat apa harus menggunakan kantor pemerintahan? Apa yang hendak disebarkan oleh majelis taklim ini? Tempat seperti kantor kelurahan dan rumah dinas itu bukanlah tempat yang bisa diakses siapa saja. Berbeda dengan masjid. Siapapun boleh masuk. Ya kecuali kalau takmir masjidnya seperti masjid yang mengusir Djarot usai Jum’atan sebelum Pilkada digelar.
  2. Latihan penyembelihan hewan kurban. Begini, mayoritas sekolah jaman sekarang halamannya dipaving atau dicor. Jika harus digali dalam untuk alasan kesehatan dari penyebaran bakteri sampah biologis hewan kurban tidak semudah itu mengembalikan. Otomatis akan ada halaman yang rusak. Butuh biaya lagi kalau mau diperbaiki. Lagipula kenapa tidak bekerja sama saja dengan masjid di sekitar sekolah? Siswa yang sudah cukup umur bisa diwajibkan untuk mengikuti Sholat Idul Adha dan membantu pelaksanaan Kurban di lingkungan sekitar sekolah. Hal ini juga bisa mendekatkan sekolah dan lingkungan sekitar. Spirit berkurban tidak harus dengan menyembelih di sekolah. Pertimbangkan juga psikologis anak terutama yang masih kecil melihat hewan disembelih.
  3. Takbir keliling. Ahok melarang takbir keliling bukan karena menghalangi syiar. Anda tahu seberapa banyak kasus kecelakaan di malam Lebaran? Seberapa sibuk petugas medis di RS di musim seperti itu. Belum ditambah kasus kecelakaan mudik. Bukankah esensinya takbir sesungguhnya adalah menggemakan kebesaran Allah? Bukankah Allah menyuruh kita memakmurkan masjid dan banyak introspeksi diri serta memohon ampunan? Kenapa tidak menggelorakannya di sekitar lingkungan tempat tinggal saja. Warga pun lebih guyub karena saling bersilaturahmi dan berkumpul. Takbiran itu jangan dimaknai sebagai huru-hara konvoi atau bermacet ria di jalan. Ingat Allah tidak menyukai yang berlebih-lebihan, termasuk berlebihan hebohnya. Lagian siapa yang mau di Hari Lebaran malah bersedih kalau ada keluarga yang jadi korban KLL di malam takbir?
  4. Lebaran paling dekat itu 25 Juni 2017, Anies belum resmi jadi Gubernur. Ia baru jadi Gubernur Bulan Oktober 2017. Anies tidak bijak mengeluarkan statement seperti itu. Hormati saja dulu sisa masa jabatan Ahok. Kalau mau mengeluarkan kebijakan baru ya disimpan dulu, tahun depan baru diutarakan. Katanya mau mendukung Ahok-Djarot menjalankan sisa jabatannya dan menjalani masa transisi dengan baik? Kenapa bahkan menjaga mulutnya saja Anies sulit? Apakah Anies bisa melakukan damage control jika kemudian Ahok-Djarot dipaksa mengikuti apa yang Ia utarakan ini? Anda belum jadi Gubernur lho.

Belum lagi pernyataannya ini,

Menurut Anies, Indonesia merupakan negara Pancasila yang sila pertama berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa. Artinya, kata Anies, pemerintah harus membantu kegiatan yang menyokong Pancasila, termasuk kegiatan keagamaan.
Sumber : https://metro.tempo.co/read/news/2017/04/24/083869046/anies-akan-memberlakukan-lagi-3-kebijakan-yang-dilarang-ahok

Bukankah komentar Anies ini bisa membuat sebagian orang menafsirkan bahwa Pemerintahan Ahok-Djarot tidak menyokong Pancasila? Padahal selama ini Pengprov DKI Jakarta sudah berupaya menjamin kebebasan beragama dan beribadah namun tetap aturan semata agar tertib. Bukankah yang seharusnya dicurigai gagal menyokong Pancasila adalah yang gemar mengangkat isu agama saat kampanye? Padahal aturan yang Ahok keluarkan itu ada dasar pemikirannya :

Pelarangan takbir keliling di jalan arteri maupun protokol ialah untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan lalu lintas. Tak hanya itu, kebijakan ini juga untuk mencegah kemacetan di beberapa ruas jalan di Ibu Kota. Untuk itu, Ahok meminta warga berkumpul di suatu tempat atau masjid untuk bertakbir serta beribadah bersama.

Ahok bukan tidak memperbolehkan orang beribadah, yang diatur hanya demi keteriban dan keselamatan warga DKI Jakarta sendiri. Ah sepertinya Anies memang perlu banyak berguru ke Ahok dulu…

1330total visits,1visits today

Share.

About Author

Leave A Reply