Alasan Kenapa Konflik Myanmar Tak Bisa Dipandang Sebagai Konflik Keagamaan

Pada tahun 2013, Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet menyampaikan kepada umat buddha di Myanmar untuk menghentikan kekerasan yang mereka lakukan kepada muslim rohingya. Pesan tersebut disampaikan oleh Dalai Lama dalam kunjungannya ke Universitas Maryland, Amerika Serikat.

“Membunuh atas nama agama itu tidak masuk akal, sangat menyedihkan. Sekarang umat buddha pun terlibat kekerasan di Myanmar,” kata Dalai Lama.

Satu tahun kemudian, yakni pada 2014, Dalai Lama kembali menyampaikan seruan perdamaian yang sama. Ia meminta seluruh umat buddha di Myanmar tak terpancing dengan sentimen keagamaan yang disebarkan kelompok-kelompok radikal tertentu. Dalai Lama meminta umat buddha Myanmar untuk kembali pada ajaran Buddha yang welas asih.

“Saya menyerukan kepada umat Buddha di Myanmar, Srilanka untuk membayangkan wajah Buddha sebelum mereka berbuat kejahatan. Buddha mengajarkan cinta dan kasih sayang. Jika Buddha ada di sana, dia akan melindungi muslim dari serangan umat buddha,” ujar Dalai lama.

Segendang sepenarian dengan Dalai Lama, umat buddha di Indonesia telah menyatakan sikap. 10 poin pernyataan sikap majelis-majelis buddha di Indonesia ini nampaknya dapat menjadi penguat bahwa yang sesungguhnya terjadi di Myanmar bukanlah konflik agama, melainkan sebuah konflik yang didasari pada kepentingan lain.

Berikut pernyataan sikap pimpinan majelis-majelis agama buddha Indonesia menyangkut krisis kemanusiaan di Myanmar:

Pernyataan sikap pimpinan Majelis-majelis Agama Buddha Indonesia terhadap krisis kemanusiaan di Rakhine, Myanmar

 Krisis dan kekerasan kembali terjadi di Rakhine, Myanmar. Baik masyarakat sipil maupun militer, menjadi korban secara fisik maupun psikis. Secara khusus komunitas masyarakat sipil terdampak sangat signifikan di tengah konflik bersenjata antara militer Myanmar dengan kelompok bersenjata.

 Melihat eskalasi dari krisis dan konflik kekerasan yang terjadi tidak kunjung mereda dan berdampak buruk, maka dengan ini kami Pimpinan Majelis-majelis Agama Buddha Indonesia menyatakan:

 1. Keprihatinan mendalam atas krisis kemanusiaan di Rakhine, Myanmar, yang telah menimbulkan korban jiwa dan kerugian moril serta amateril yang besar, bukanlah konflik agama melainkan konflik sosial dan kemanusiaan.

 2. Menumbuhkan solidaritas kemanusiaan atas krisis Rakhine, Myanmar, dengan mengedepankan sikap cinta kasih bahwa korban atau pun masyarakat yang terdampak adalah sama-sama manusia yang setara dan serasa di hadapan Tuhan.

 3. Menghentikan kebencian dan tindak kekerasan agar tidak semakin memperparah kerusakan yang diakibatkan.

 4. Mendesak Pemerintah Myanmar untuk memberikan perlindungan, bantuan dan hak asasi dasar kepada masyarakat Rakhine.

 5. Menolak segala bentuk provokasi untuk memperluas dan membawa isu konflik dan krisis Rakhine, Myanmar, ke Indonesia yang dapat mengganggu kerukunan hidup umat beragama di Indonesia.

 6. Mengimbau masyarakat Indonesia untuk dapat menyaring informasi yang beredar melalui media sosial, dan tidak terprovokasi untuk menyebarkan kebencian. Kami sangat mengharapkan kepada Cyber Crime Polri dan BIN agar mendeteksi informasi yang berbentuk provokasi agar tidak tersebar ke masyarakat.

 7. Kami sangat mengharapkan Pemerintah Indonesia menjamin umat beragama untuk beribadah dengan tenang dan aman, serta menjamin keamanan terhadap rumah ibadah yang berada di Indonesia.

 8. Sangat perlu diingat bahwa tidak ada agama yang dapat dikaitkan dengan aksi terorisme, karena aksi keji tersebut sama sekali tidak mencerminkan perilaku umat beragama. Kejadian ini harus dapat menjadi pendorong bagi bersatunya umat beragama di Indonesia bahkan di seluruh dunia.

 9. Kami menghimbau seluruh umat beragama, khususnya umat Buddha untuk tidak terprovokasi. Sebagai umat beragama sudah selayaknya kita bersama-sama menjaga kerukunan dan perdamaian di Indonesia serta di seluruh dunia.

 10. Kami umat Buddha Indonesia yang menjunjung tinggi kerukunan dan perdamaian menyampaikan rasa empati atas penderitaan yang dialami oleh saudara-saudara kita pengungsi Rohingya, dan masyarakat di Rakhine, Myanmar, untuk itu kami berdoa agar penderitaan ini segera berakhir.

 Demikian Pernyataan Sikap kami. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan berkah nan luhur kepada seluruh umat manusia.

Semoga semua Makhluk hidup berbahagia.

 Jakarta, 30 Agustus 2017

Sikap majelis-majelis agama buddha di atas menegaskan bahwa ajaran Buddha tidak pernah merujuk pada kekerasan sebagaimana ditunjukkan oleh Ashin Wirathu, SKUAD 969 dan segelintir umat buddha –penganut paham radikal ala Wirathu– lainnya di Myanmar.

248total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *