14 Petugas Penjaga Perdamaian PBB di Kongo Tewas Diserang Kelompok Pemberontak

Pemberontak membunuh setidaknya 14 petugas penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan melukai 53 lainnya di Kongo. Sebagian besar penjaga perdamaian berasal dari Tanzania. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa serangan yang menargetkan tentara dari Tanzania adalah kasus terburuk dalam sejarah.

Guterres mengatakan bahwa serangan yang terjadi di sebelah timur Republik Demokrasi Kongo merupakan kejahatan perang dan dia meminta pihak berwenang Kongo untuk menyelidiki dan dengan cepat membawa para pelaku ke pengadilan.

“Saya ingin mengungkapkan kemarahan dan kehancuran hati saya pada serangan semalam,” kata Guterres kepada wartawan di markas PBB di New York, dilansir dari¬†Reuters, Sabtu (9/12/2017).

Sementara tiga penjaga perdamaian lainnya hilang setelah baku tembak yang terjadi selama tiga jam dan terjadi pada Kamis 8 Desember malam waktu setempat. Hal tersebut disampaikan oleh Ian Sinclair, direktur Pusat Operasi dan Krisis PBB.

Kelompok militan yang dicurigai merupakan Pasukan Demokrasi Sekutu (ADF) melakukan serangan di sebuah markas PBB untuk misi Kongo (MONUSCO) di kota Semuliki. ADF adalah kelompok pemberontak dari seberang perbatasan di Uganda, yang telah aktif di daerah tersebut. MONUSCO mengatakan bahwa pihaknya mengoordinasikan sebuah responS bersama dengan tentara Kongo dan mengevakuasi korban luka-luka dari pangkalan di wilayah Beni Kivu Utara.

Selain itu, lima tentara Kongo juga tewas dalam serangan tersebut, kata MONUSCO dalam sebuah pernyataan.

Kelompok milisi bersaing mengendalikan bagian-bagian Kongo timur yang kaya akan mineral hampir satu setengah dekade setelah berakhirnya perang 1998-2003 yang menewaskan jutaan orang, yang sebagian besar meninggal karena kelaparan dan penyakit.

Di daerah tersebut sering terjadi pembantaian dan setidaknya 26 orang tewas dalam sebuah penyergapan pada Oktober. pemerintah Kongo dan PBB telah menyalahkan hampir semua kekerasan yang dilakukan ADF namun pakar PBB dan analis independen mengatakan milisi dan elemen lain dari tentara Kongo juga ikut terlibat.

Peningkatan aktivitas milisi di timur dan tengah serta serangkaian pemenjaraan telah memicu keresahan yang meningkat di Kongo di tengah ketegangan politik terkait dengan penolakan Presiden Joseph Kabila untuk mengundurkan diri ketika mandatnya berakhir.

102total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *